Halo haha kali ini mau sharing sesuatu yang agak kontroversial ...
Dari tulisan ini Banyak hal yang bisa kita ambil loh.
Ketika tuntutan industri nggak menghilangkan kualitas itu sendiri...
Dan ketika batas antara "Bagus dan tidak bagus" di ganti dengan "suka atau tidak suka" .
Kalo nggak suka mendingan tutup kuping, atau kalu mau lebih terhormat TUNJUKIN KARYA LO! lebih bagus dari mereka... jangan cuma bisa mencela lewat fanpage ANTI-si ini ANTI-si itu.
Gue kagum sama pemikirannya, oke ga usah banyak bacot langsung di baca dengan seksama ya :)
Di kutip dari blog Anji Drive ...
Apakah musik Indonesia itu jelek ?
Jam 11 Waktu Indonesia Barat adalah saatnya memulai hari buat orang yang berani mematuk rejeki ayam, sebelum dipatuk duluan. Haha baiklah, setidaknya buat saya, yang sering tertidur di saat orang lain baru bangun. Pada suatu siang, tepat jam 11 ada telpon dari Bello, seorang teman yang bekerja di Trax Magazine. “Nji, lo nulis tentang Musik Indonesia di tahun 2011 ya!”, itu katanya. Saya yang baru bangun sih menjawab iya iya aja, padahal belum tau mau nulis apa. Lalu terpikir perkataan dan tulisan beberapa teman ( apakah kamu termasuk di dalamnya?), bahwa musik di Indonesia itu jelek! Hmm, menarik nih. Apakah memang jelek?
Menurut info dari beberapa teman MD (Music Director) radio di seluruh Indonesia, mereka kesulitan dalam menyusun playlist siaran karena banyaknya artis yang masuk. Dalam sebulan ada kurang lebih 100 lagu baru, dari artis lama dan baru. Paling banyak yang bisa diputar hanya 20-40 lagu. Sadis kan?! Belum lagi urusan chart. Kalo mau dilihat dari data ini, menurut kamu musik Indonesia bagus atau jelek?
Itu kuantitas. Sekarang mari bicara kualitas. Beberapa tahun belakangan aliran melayu merajai industri. ST12 dan Wali jadi primadona. Saya bukan penikmat musik melayu, tapi penyimak musik Indonesia. Kalau dilihat dari sisi kualitas produksi, mereka cukup baik. Ada @KrisnaSadrach di balik album ST12. Ada @ariabaron dibalik Wali. Album 2 Kangen Band yang diawasi Andi Bayou juga menurut saya bagus kualitasnya untuk dipertanggungjawabkan dari segi sound. Oiya, ada satu lagu band melayu yang konon berhasil membuat sistem RBT sebuah operator mati karena traffic-nya yang sangat luar biasa, ckckck. Nah, di luar band melayu yang mengharu biru, nyatanya masih banyak musik ‘non-melayu’, yang baru dan yang lama, berhasil menancapkan posisinya dan punya banyak fans. Sebut saja D’Masiv, Nidji, Vierra, Geisha, Kotak, Andra And The Backbone, Gigi, Drive (uhuk!) dan lain-lain. Di non mainstream ada Efek Rumah Kaca, SID, Endank Soekamti, Endah N Rhesa dan banyak lagi yang keren-keren. Muncul pertanyaan, kualitas itu makhluk macam apa sih? Bagaimana mendeteksi musik yang kualitasnya bagus atau tidak?
Sebagai pelaku, saya sih melihat kualitas itu dari sisi produksi sebuah lagu atau album, bukan dari aliran yang mereka usung. Kalo misalnya band melayu itu referensinya memang musik melayu dan dangdut (misalnya), masa mau kita suruh mereka mainin music jazz atau rock? Pasti ngawur! Kalo saya disuruh mainin musik melayu, pasti juga gak bagus. Makanya saya pilih pop rock. Terserah kalo ada orang yang ngatain jelek. “Haters will always be around. Why bother? We, human, always put label on everything.Things we dislike, we called them trash” . Itu kata seorang teman saya. ( lirik @aMrazing )
Saya juga mau bicara SM*SH , yang berhasil bikin linimasa / timeline di twitter luber sama mention. Akhir tahun 2010 tiba-tiba dikejutkan oleh hadirnya sebuah boyband yang (sebenarnya tidak) segar formatnya. Inikah trend baru di 2011? Menurut saya mungkin saja, kenapa tidak? Seingat saya sebuah trend itu selalu mendulang cerca di awal. Mengutip tweet @djuleee, seorang MD di Istara dan praktisi musik, dia bilang “SM*SH menurut gue pinter. Saat yang lain lagi sibuk sama melayu, mereka bikin trend yang hampir dilupakan. Audience itu suka artis yang ganteng dan menari’’. Saya mengamininya. Saya memuji mereka untuk beberapa fakta.
Di saat banyak band yang mencari kesempatan untuk show dan berpromo, mereka malah akan memiliki acara sendiri di sebuah stasiun televisi (cerdas sekali mengontrak mereka). Saat inipun saya yakin manajemen mereka sulit mencari jadwal kosong. Satu hal yang menarik, mereka belum mempunyai label. Mereka artis indie. Hebat sekali!!! Lalu mengapa mereka dicela? Banyak tweet yang masuk ke saya mengatakan mereka itu banci, homo ataupun cemen. Apa korelasinya 3 hal itu dengan kualitas musik? Satu lagi, sebagai penulis lirik saya kagum akan penggunaan kata ‘cenat-cenut’ yang sukses mem-brainwash kita. Ya, menurut saya mereka bisa menjadi trend. Apakah saya suka? Itu lain perkara. Sampai saat ini belum ada boyband selain NKOTB, Take That era Robbie Williams dan juga ‘N Sync sebelum Justin bersolo karir, yang bisa memalingkan wajah saya.
Nah, kembali ke pertanyaan awal. Apakah musik Indonesia jelek? Itu adalah sebuah penilaian yang sangat subyektif. Mari tanyakan itu pada telinga dan hati kita. Selalu ada yang bisa dicela, bahkan dari hal yang baik sekalipun. Menurut saya yang paling penting adalah berkarya. Berbuat sesuatu untuk musik Indonesia. Kalau kamu tidak suka dengan sebuah karya musik, tutup telinga daripada menghina. Atau kalo kamu cerdas, ‘hajar’ mereka dengan karya sendiri yang kamu anggap bagus. Gunakan cara yang lebih intelek dan memotivasi diri sendiri untuk maju.
Terakhir, selalu ada jabat tangan dari saya untuk sebuah kreatifitas. Go musik Indonesia. GO!!
TULISAN INI DIMUAT DI TRAX MAGAZINE EDISI FEBRUARI
OLEH ANJI DRIVE
Tidak ada komentar:
Posting Komentar